Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

(0324) 322551

Email

tbin@iainmadura.ac.id

Hari Amal Bakti dan Gerakan Ekoteologi Kementerian Agama

  • Diposting Oleh BINAR TBIN
  • Sabtu, 3 Januari 2026
  • Dilihat 62 Kali
Bagikan ke

Setiap Hari Amal Bakti Kementerian Agama selalu menjadi momen refleksi: sudah sejauh mana agama benar-benar hadir dalam kehidupan nyata umatnya? Di tengah isu lingkungan yang belakangan ini makin sering kita dengar—mulai dari banjir, krisis air bersih, cuaca ekstrem, hingga kerusakan lahan—pertanyaan itu terasa semakin relevan. Persoalan lingkungan bukan sekadar urusan teknis atau kebijakan, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Agama tidak boleh hanya berdiri di mimbar, tetapi harus turun tangan. Mencintai Tuhan juga harus diwujudkan dalam sikap nyata merawat ciptaan-Nya.

Di sinilah Gerakan Ekoteologi yang digagas Kementerian Agama menjadi penting. Gerakan ini mengajak kita membaca ulang relasi antara manusia, Tuhan, dan alam secara lebih utuh dan bertanggung jawab.

Gerakan ekoteologi lahir dari kegelisahan yang sederhana tapi mendalam: mengapa krisis ekologi terjadi di tengah masyarakat yang mengaku religius? Indonesia menempati posisi teratas (93%) sebagai negara paling percaya kepada Tuhan menurut World of Statistics (2010). Angka ini membanggakan, tetapi sekaligus menyimpan ironi. Keimanan yang tinggi ternyata belum otomatis melahirkan kepedulian terhadap lingkungan.

Di sinilah terlihat adanya krisis spiritualitas—iman yang belum menjelma menjadi etika ekologis. Alam diperlakukan sebatas objek eksploitasi, bukan sebagai amanah. Bukankah Nabi pernah berpesan ”Selagi mampu menanam, maka tanamlah walaupun besok kiamat.” Hadis ini menyampaikan pesan yang sangat kuat: kepedulian terhadap alam tidak bergantung pada situasi, hasil, atau keuntungan jangka pendek. Bahkan ketika dunia seolah akan berakhir, manusia tetap diminta berbuat baik kepada alam.

Tujuan utama gerakan ekoteologi adalah transformasi cara berpikir terhadap alam. Alam tidak lagi dipandang sebagai “sumber daya” semata, tetapi sebagai mitra kehidupan. Dari perubahan cara berpikir ini diharapkan tumbuh habituasi lingkungan—kebiasaan-kebiasaan kecil yang ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pengelolaan sampah, penghematan air dan listrik, hingga kepedulian terhadap ruang hijau kampus.

Lebih jauh lagi, gerakan ini juga mendorong advokasi lingkungan. Warga kampus, termasuk UIN Madura, tidak hanya menjadi pengguna lingkungan, tetapi juga suara moral yang berani menyuarakan keadilan ekologis.

Gerakan ekoteologi bertumpu pada lima nilai utama. Pertama, alam sebagai manifestasi Tuhan. Alam bukan benda mati, tetapi tanda-tanda kebesaran Ilahi. Kedua, manusia sebagai khalifah, bukan penguasa sewenang-wenang. Ketiga, kesakralan alam sejalan dengan kesakralan hidup—merusak alam berarti merendahkan nilai kehidupan itu sendiri. Keempat, keadilan ekoteologi, yaitu kesadaran bahwa kerusakan lingkungan selalu berdampak pada kelompok paling rentan. Kelima, keimanan holistik, yakni iman yang bertanggung jawab secara sosial dan ekologis, tidak egoistik dan sempit.

Nilai-nilai tersebut diimplementasikan melalui tiga gerakan utama. Pertama, gerakan ilmu dan literasi ekoteologi. Kampus menjadi ruang strategis untuk mengembangkan kajian, diskusi, dan riset yang mengaitkan agama dengan isu lingkungan. Kedua, iman dan kesalehan ekoteologis, yaitu menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan kesalehan personal. Ketiga, aksi dan teladan ekoteologis—bergerak nyata, memberi contoh, dan mengajak dengan tindakan, bukan hanya kata-kata.

Dalam semangat Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama, Gerakan Ekoteologi adalah ajakan untuk mengamalkan agama secara lebih membumi. Bagi warga UIN Madura, ini adalah peluang sekaligus tanggung jawab: menjadikan kampus bukan hanya pusat pengetahuan dan keilmuan keislaman, tetapi juga teladan kepedulian ekologis. Dari Madura, kita bisa memulai langkah kecil untuk bumi yang lebih lestari—karena merawat alam, sejatinya adalah bagian dari ibadah kita kepada Tuhan.

“Ekoteologi bisa memperlambat datangnya ‘kiamat’. Dengan kita mempercepat ekoteologi, maka kita memperlambat datangnya bencana." Menteri Agama, Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar, MA.

Selamat Hari Amal Bakti Kementerian Agama 80 Tahun! Jaya jayalah selalu.
 

Agus Purnomo Ahmad Putikadyanto (Dosen Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura).